Sejarah Mina Adalah Tempat Mulia Yang Telah Menjelma Menjadi Tempat Berkumpulnya Para Peziarah

Wadi Wadi, juga dikenal sebagai Mina atau Mina, adalah sebuah wadi wadi yang terletak di distrik Al Masha’a Provinsi Makkah Al Mukarramah, Arab Saudi. Selama prosesi haji, jemaah haji berkumpul di Mina dan berdiam diri selama beberapa hari.

Dikutip dalam buku 1001 Awesome Facts of the Miracles of Makkah about Nur Salsabila, ibu kota Makkah, Mina terletak di tanah suci antara Makkah dan Muzdalifah. Berjarak sekitar 7 km dari Muzdalifah dan 4 km dari Masjidil Haram.

Mina memainkan peran penting dalam haji. Luasnya sekitar 20 kilometer persegi dan merupakan tempat berkumpulnya para peziarah. Mina dalam bahasa Arab berarti harapan atau cita-cita.

Di masa lalu, Mina adalah tempat yang sepi dan hampir kosong kecuali selama musim panas. Minae awalnya dihuni oleh orang-orang dari Kuraishi.

Semoga shalawat dan salam menyertaimu di zaman Rasulullah, para jamaah haji yang datang ke Mina awal-awal unta dipersilakan untuk mengikatkan unta mereka di tempat yang mereka inginkan. Jamaah haji yang datang berikutnya tidak mendapat tempat duduk karena sudah datang lebih dulu.

Dalam bahasa Arab, Mona atau Mona berarti harapan. Ini adalah tempat yang menjadi harapan damai bagi Nabi Adam, yang berbisik kepada Hawa setelah berpisah selama 200 tahun.

Tidak hanya itu, kata meena berasal dari kata safe yang artinya mengambil darah. Mina, Nabi Ibrahim, saw, dan saw untuk menjalankan perintah Allah untuk membunuh putranya Nabi Ismail.

Ibadah umat Islam ini kemudian ditahbiskan sebagai kurban di Idul Adha hingga hari konversi dalam rangka memperingati apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim.

Mona juga merupakan tempat yang penuh dengan cobaan. Nabi Ibrahim tidak hanya harus mengorbankan putra kesayangannya, tetapi dia juga dicobai oleh Setan. Inilah sebabnya mengapa Nabi Ibrahim (alaihissalam) melemparkan batu ke setan. Kisah ini diabadikan dengan kewajiban setiap kelompok untuk melempar kerikil.

Baca juga  Giliran Meta Lakukan PHK, Ratusan Karyawan Terdampak

Semua Muslim yang melakukan haji akan tinggal selama beberapa hari di Mina. Para jamaah akan berkumpul dan bermalam di tenda-tenda sebagai tempat berteduh.

Setelah itu, kawasan tersebut dengan cepat berkembang menjadi kawasan modern. Ribuan tenda dapat ditemukan pada periode haji. Tenda untuk lebih dari 100.000 peziarah telah dibangun di daerah tersebut.

Dengan ratusan ribu tenda permanen, Mona mendapat julukan Kota Tenda. Semua tenda yang dibangun mampu menampung hingga 3 juta jamaah.

Jauh sebelum pemerintah Arab membangun tenda-tenda ini, para peziarah membawa tenda mereka ke lembah dan membongkarnya ketika mereka menyelesaikan pelatihan haji mereka. Pada 1990-an, pemerintah Saudi mendirikan tenda kapas permanen, yang menjadi tempat berteduh bagi para peziarah.

Tenda dikelompokkan ke dalam kamp dengan dinding terpisah dan dipisahkan sesuai dengan kebangsaan para peziarah.

Setiap kamp dilengkapi dengan dapur, kamar mandi dan fasilitas binatu dan dihubungkan dengan rute ke kamp lainnya. Tenda ini juga menampilkan pasangan warna dan nomor yang unik untuk dengan mudah mengidentifikasi peziarah dari seluruh dunia.

Agency France-Presse (14/7) melaporkan kecelakaan selama musim haji pada 2 Juli 1990, di mana 1.426 orang meninggal karena terinjak-injak dan masalah pernapasan di sebuah terowongan dekat Mekah. Peristiwa ini dikenal sebagai tragedi Terowongan Mina sebagai tragedi Haji yang paling banyak menyebabkan kematian dalam sejarah modern.

Tragedi berdarah Mina kembali mengemuka pada 15 April 1997, ketika sekitar 340 jemaah tewas dalam kebakaran di tenda haji Mina. Lebih dari 1.500 orang lainnya terluka. Penyebabnya adalah kebakaran di tabung gas memasak.

Kemudian, pada 23 September 2015, sebanyak 453 jamaah tewas dan lebih dari 719 terluka. Musibah ini terjadi ketika umat beriman yang menuju ke tempat eksekusi Jamla saling berebutan di areal tenda Mina.

Baca juga  Sony Dan Western Digital Resmi Luncurkan SSD Khusus PlayStation 5

You May Also Like

About the Author: Denok Safitri